Wahyu Tri Utami dreamer by night, reader by day

WARIA IBADAH HAJI, GIMANA HUKUMNYA?

1 min read

WARIA IBADAH HAJI, GIMANA HUKUMNYA?

Istilah waria atau wanita pria pasti sudah nggak asing lagi di telinga. Lalu, gimana hukumnya kalau seorang waria beribadah haji? Menurut para ulama, hukum waria dalam menunaikan ibadah haji tetaplah wajib sebagaimana orang Islam lainnya apabila mampu baik secara rohani maupun jasmani. Jika jasmaninya laki-laki maka diwajibkan baginya untuk berhaji seperti laki-laki pada umumnya. Ini karena dalam Islam nggak ada hukum khusus untuk waria.

 

Waria yang naik haji akan dikenakan syarat yang sama seperti halnya calon jamaah haji lain. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam masalah ini ialah ada dua istilah yaitu Khuntsa dan Takhannuts yang dikenal dalam Islam. Keduanya berbeda secara mendasar walau sedikit mirip. Nah, dua hal inilah yang harus dipahami benar oleh waria sebelum melaksanakan ibadah haji.

 

Khuntsa ialah keadaan khusus di mana seseorang terlahir dengan kelamin ganda, alias laki-laki dan wanita sekaligus. Dalam kasus ini, Islam memiliki sikap tersendiri sejak awal terkait status jenis kelamin seseorang. Jika organ kelamin laki-lakinya lebih dominan dari segi bentuk, fungsi, ukuran dan lain sebagainya, maka ia dinyatakan sebagai laki-laki. Begitu juga kalau organ kelamin perempuan lebih dominan maka ia dihukumi sebagai seorang perempuan.

 

Kalau sudah jelas identitas kelaminnya, maka berlaku bagi Khuntsa hukum mengenai batasan aurat, nikah, mahram, wali, warisan dan lain-lain. Dalam masalah haji, Khuntsa yang ditetapkan haruslah mengelompokkan diri sesuai jenis kelaminnya masing-masing. Nah, masalah dengan waria beribadah haji biasanya lebih mengarah pada golongan Takhannuts. Takhannuts ialah seseorang yang berpura-pura menjadi perempuan padahal aslinya laki-laki atau laki-laki yang berlagak jadi perempuan. Instansi terkait haji maupun umroh seperti Kemenag sudah seharusnya meneliti dengan lebih seksama terkait Takhannuts ini. Mereka biasanya berlagak seperti Khuntsa walau dari segi fisik telah memiliki organ kelamin yang jelas.

 

Untuk menghindari munculnya masalah terkait status laki-laki atau perempuan, memang harus dipastikan dari alat kelaminnya sebagai pedoman apakah seseorang harus menggunakan pakaian ihrom perempuan atau laki-laki. Waria sendiri umumnya adalah mereka yang berasal dari golongan laki-laki akan tetapi bergaya seperti perempuan. Jadi, perlakuan pada mereka tentu harus disesuaikan dengan etika laki-laki. Karena mereka pada dasarnya adalah laki-laki, jadi pergaulan  mereka dengan perempuan juga persis sebagaimana etika atau adab pergaulan laki-laki dengan wanita yang memiliki batasan tertentu.

 

Dalam Islam sendiri, orang yang melakukan Takhannuts terbilang melakukan dosa besar karena termasuk dalam bentuk penyimpangan dari fitrah mereka. Harapannya sih, dengan waria beribadah haji mereka bisa kembali ke fitrahnya masing-masing sebagai laki-laki.

2
Wahyu Tri Utami
Wahyu Tri Utami dreamer by night, reader by day

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *