Wahyu Tri Utami dreamer by night, reader by day

UMROH SAAT HAID, BAGAIMANA HUKUMNYA?

1 min read

UMROH SAAT HAID, BAGAIMANA HUKUMNYA?

Salah satu syarat sahnya thawaf dalam ibadah haji maupun umroh ialah suci dari hadats kecil maupun besar. Kesucian ini sudah jadi syarat thawaf yang sah menurut mayoritas ulama. Termasuk di antaranya adalah suci dari haid dan nifas. Trus, gimana dong dengan jamaah haji atau umroh perempuan yang sedang dalam keadaan haid? Apakah umroh saat haid berarti nggak sah atau thawaf bisa diganti dengan amalan yang lain?

 

Dalam mazhab Syafii telah disebutkan bahwa wanita haid yang belum melaksanakan thawaf ifadhah haruslah bertahan di Mekkah sampai dirinya suci. Kalaupun ada bahaya yang mengancam jiwa atau mau pulang bareng rombongan sebelum dilaksanakannya thawaf ifadhah, maka jamaah wanita ini harus tetap dalam keadaan ihram sampai balik lagi ke Mekkah.

 

Pandangan yang berbeda disampaikan kalangan Hanafi. Menurut mazhab ini, suci dalam thawaf hukumnya adalah wajib. Orang yang thawaf dalam kondisi nggak suci seperti wanita haid bisa tetap dihitung sah tapi wajib membayar dam. Dalilnya adalah Al Quran surah al-Hajj ayat 29. Ayat ini memerintahkan thawaf secara mutlak terlepas dari syarat kesucian. Hadist yang digunakan jumhur ialah hadist ahad yang sifatnya kemungkinan besar nggak membatasi nash Al Quran di atas.  Hadist ini juga bersifat penyerupaan, persisnya menyerupakan thawaf dengan sholat, baik dari sisi pahala maupun kewajibannya. Menurut mereka, umroh saat haid terutama thawafnya tetap terbilang sah, hanya saja harus membayar dam.

 

Ada juga nih sebagian ulama yang berpendapat kalau wanita yang tiba-tiba haid sebelum melakukan ataupun menyelesaikan thawafnya dan nggak mungkin tinggal sampai haidnya selesai, maka dia bisa mewakilkannya pada orang lain yang sudah thawaf. Orang yang menjadi wakil ini bakal melakukan thawaf sekali lagi untuk wanita itu. Wanita yang mendapat haid ini juga boleh mengonsumsi obat khusus yang bisa menghentikan keluarnya darah haid, kemudian mandi dan berthawaf lagi. Hal ini sesuai kok dengan pandangan mazhab Syafii di mana kondisi bersih pada hari-hari terputusnya haid akan tetap dianggap suci.

 

Dari beberapa padangan terkait umroh saat haid di atas, bisa diambil kesimpulan kalau wanita yang haid sebaiknya menunggu sampai suci biar bisa melakukan thawaf secara sah. Kalau enggak, boleh kok mengonsumsi obat khusus yang bisa menghentikan haid. Tapi kalau darah haid tetap keluar juga, alternatifnya adalah thawaf dengan cara membayar dam sebagaimana pandangan kalangan Hanafi. Agama Islam itu mudah dan nggak mempersulit umatnya, kok!

 

2
Wahyu Tri Utami
Wahyu Tri Utami dreamer by night, reader by day

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *