sabila ainur a wanderer and a writer

UMAT ISLAM DALAM MENGHADAPI HOAX

1 min read

UMAT ISLAM DALAM MENGHADAPI HOAX

Jagad per-sosmed-an saat ini ngga hanya ramai dengan netizen yang hobi berkomentar nyinyir, tapi juga banjir hoax atau berita bohong. Ngga hanya isu sosial atau politik aja, ngga sedikit juga pesan hoax mengenai haji dan umroh tersebar pada jamaah. Misalnya saat musim haji 2018 lalu, ada berita bohong tersebar mengenai kecelakaan bus. Ngeri dan bikin parno juga kan?

 

Lantas, sebenarnya gimana sih umat Islam dalam menyikapi berita hoax?

 

Hoax di Zaman Nabi

Sebenarnya berita hoax ini sudah pernah terjadi di masa nabi Muhammad shallalhu alaihi wasalam, di mana istri nabi tertimpa berita hoax yang disebarkan oleh pimpinan yahudi bernama Abdullah bin Ubay bin Salul. Peristiwa ini dikenal dengan haditsul ifki, berita bohong.

 

Waktu itu Aisyah ikut menemani perjalanan Rasulullah. Di tengah perjalanan Aisyah merasa ada yang hilang. Kalungnya yang terbuat dari akar zhafar putus dan hilang. Aisyah kemudian mencarinya dan berhasil menemukannya. Tapi akibatnya dia ditinggal oleh rombongan dan dia berharap bisa menemukan orang lain yang bisa mengantarnya kepada rombongan Rasulullah.

 

Ngga lama kemudian, Shafwan bin al-Mu’aththal al-Sulami menemukan Aisyah. Dia tidak bisa berkata satu kata pun, karena kaget bahwa gadis yang ditemukannya itu adalah istri Rasulullah. Hanya kalimat istirja’, innalillahi wa inna ilaihi raji’un, yang bisa keluar dari mulutnya. Dia pun mempersilahkan Aisyah untuk menaiki kendaraan yang ditungganginya agar bisa menyusul rombongan Rasulullah.

 

Sebetulnya Aisyah dan Shafwan tidak melakukan apa-apa. Jangankan melakukan perbuatan senonoh, berbicara saja tidak. Tapi situasi berubah dan menjadi kacau setelah Abdullah bin Ubay memfitnah keduanya sampai akhirnya berita itu membuat hati Rasul gundah dan gelisah. Rasulullah semakin bingung ketika wahyu tidak turun untuk menjernihkan dan memberi tahu siapa yang benar dan apa yang harus dilakukan. Di tengah kebingungan itu, Rasulullah untungnya tidak langsung percaya dan mengambil putusan yang terburu-buru. Beliau mencoba mendiskusikan hal itu dengan beberapa orang sahabat dan minta pendapat mereka.

 

Rasul sempat berdiskusi dengan Ali bin Abi Thalib, Usamah bin Zaid, Barirah, dan juga meminta pendapat kaum muslimin. Ali bin Abi Thalib mengatakan Rasul tidak usah sedih, karena masih banyak wanita lain selain Aisyah. Tapi Usamah bin Zaid dan Barirah berpendapat selama bergaul dengan Aisyah mereka tidak menemukan sifat buruk dari istri Rasulullah itu. Rasul pun mendatangi dan meminta klarifikasi kepada Aisyah. Rasul mengatakan semoga kamu dijauhkan dari hal ini, dan kalau kamu memang melakukannya segeralah bertaubat kepada Allah karena Allah pasti menerima taubat hambanya.

 

Pernyataan Rasul ini tentu membuat hati Aisyah sedih, karena seakan-akan secara tidak langsung Rasul terpengaruh dengan berita bohong yang disampaikan Abdullah bin Ubay. Untungnya, tidak lama kemudian Allah menurunkan wahyu. Surat al-Nur ayat 11 sampai 22 adalah jawaban dari semua permasalahan yang menimpa Rasul.

 

Pesan utama dari surat al-Nur ini adalah jangan menyampaikan berita bohong, meskipun itu terlihat kecil dan remeh, karena bagi Allah itu adalah perkara yang besar. Dan, orang yang menyampaikan berita bohong itu kelak akan diazab Allah SWT. Rasul bahagia dan lega ketika wahyu turun. Allah membebaskan Aisyah dari segala tuduhan. Aisyah pun merasa malu ketika kasus yang menimpa dirinya diabadikan dalam al-Qur’an.

 

Hikmah Kisah

Maka dari kisah diatas,  jika jamaah Haji dan Umroh mendapat berita hoax tidak buru buru menyebarkan kembali berita tersebut kepada orang lain sebelum mengklarifikasi kebenaran berita tersebut. Berita yang belum tentu kebenarannya, kalau buru-buru disebar, tentunya bisa menyulut berbagai reaksi negatif, misalnya jadi mengadu domba, memunculkan prasangka, fitnah, kebencian, bikin gaduh, bikin heboh, dan sebagainya. 

 

Kalau dalam Islam, kita wajib tabayyun (mengetahui dengan sejelas-jelasnya) dalam menghadapi setiap informasi yang kita terima, jangan mudah tersulut. Kalau kita merasa belum yakin dengan kebenaran informasinya, diam adalah langkah terbaik daripada bersuara dan memunculkan prasangka yang belum tentu kebenarannya. Setuju? 

 

Oleh: Firman Zamzami Lc

Editor: Salsabila Ainurrohman

 

6
sabila ainur
sabila ainur a wanderer and a writer