Desi Wulandari Buruh teks serabutan

MEWAKILKAN HAJI ORANG LAIN, BAGAIMANA HUKUMNYA?

1 min read

MEWAKILKAN HAJI ORANG LAIN, BAGAIMANA HUKUMNYA?

Ada dua pendapat terkait hukum mewakilkan haji orang lain, yang pertama yaitu mewakilkan haji fardu dan kedua mewakilkan haji sunah. Kalau hajinya adalah haji fardu, maka orang tersebut ngga boleh mewakilkan pelaksanaan ibadah hajinya kepada orang lain, kecuali dengan kondisi yang memang ngga memungkinkan. Misalnya karena sakit parah yang ngga mungkin sembuh atau jemaah terlalu lansia sehingga akan berbahaya kalau melakukan perjalanan jauh. Kalau sakitnya masih bisa disembuhkan, maka dia harus menunggu sampai sembuh dan bisa melaksanakan haji sendiri. Seseorang yang ngga punya halangan apapun untuk berhaji, bahkan mampu melaksanakannya sendiri, maka diharamkan baginya mewakilkan pelaksaan hajinya kepada orang lain.

 

Hal ini seperti tercantum dalam firman Allah SWT, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggu mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran:97).

 

Salah satu tujuan ibadah yaitu agar manusia harus melaksanakannya sendiri supaya ibadahnya kepada Allah SWT tersebut sempurna. Nah, kalau ada orang yang mewakilkan ibadahnya kepada orang lain, maka dia ngga akan mendapatkan makna dari ibadah itu sendiri, termasuk mewakilkan haji orang lain. Namun kalau orang yang ingin diwakilkan tersebut sudah melaksanakan kewajiban haji sebelumnya, dan kemudian dia ingin melaksanakan haji kembali tapi diwakilkan orang lain maka hukumnya antara dibolehkan dan ada yang melarang.

 

Salah satu dari riwayat Imam Ahmad menjelaskan bahwa seorang muslim ngga boleh mewakilkan haji sunah kepada orang lain, baik dia mampu maupun ngga mampu. Alasannya karena haji adalah ibadah yang harus dikerjakan dengan badannya sendiri,  sama halnya seperti puasa Ramadhan atau sunah dan bukan termasuk ibadah harta benda (kita yang mengeluarkan biaya untuk perjalanan haji dan orang lain yang mendapatkan manfaatnya).

 

Oleh karena itu, maka ngga sah hukumnya mewakilkan haji orang lain kecuali memang sudah dijelaskan dalam sunah atau syariat islam lainnya. Namun, sampai sekarang belum ada sunah yang meriwayatkan tentang adanya seseorang yang mewakili orang lain dalam haji sunah. Maka dari itu, ibadah haji ditujukan kepada mereka yang memang sudah merasa mampu melaksanakannya, baik dalam hal materi, mental, sampai fisik. Karena haji membutuhkan kehadiran fisik kita sendiri secara langsung di tanah suci dalam melaksanakannya, maka apabila diwakilkan ke orang lain kita bakal kehilangan makna dari ibadah haji itu sendiri.

7
Desi Wulandari
Desi Wulandari Buruh teks serabutan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *