sabila ainur a wanderer and a writer

KISAH MUSH'AB BIN UMAIR DAN PERJUANGANNYA DEMI ISLAM

1 min read

KISAH MUSH'AB BIN UMAIR DAN PERJUANGANNYA DEMI ISLAM

Sudah rupawan, bergelimang harta, baik hati, dan masih muda, semua paket lengkap ini ada pada sosok Mush’ab bin Umair. Salah satu sahabat Rasulullah shalallahualaihi wassalam ini adalah sosok pemuda yang patut untuk diteladani sama pemuda-pemuda muslim di mana pun. Kenapa? Karena di tengah kehidupannya yang serba ada, Mush’ab justru rela meninggalkan semuanya demi menggapai surga. Mau tau kisahnya seperti apa?

 

Pemuda Tampan Nan Kaya Raya

 

Mengenai penampilan Mush’ab bin Umair, Rasulullah shalallahualaihi wassalam  bersabda, “Aku tidak pernah melihat seorang pun di Mekah yang lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan selain dari Mush’ab bin Umair.” (HR. Hakim).

Mush’ab bin Umair adalah pemuda idaman setiap wanita jomblo di Mekah pada masanya. Hidupnya pun serba ada, bahkan kedua orang tuanya juga sangat memanjakan dia. Sayangnya cuma satu, Mush’ab berasal dari keluarga penyembah berhala.

 

Dan di suatu hari, beredar kabar bahwa Rasulullah shalallahualaihi wassalam berkunjung ke bukit Shofa, Mekah untuk berdakwah. Mendengar kabar tersebut, Mush’ab penasaran dan akhirnya datang menyaksikan.

 

Di tengah banyaknya kafir Quraisy yang menentang perkataan Rasulullah, saat bertemu langsung dengan Rasulullah dan mendengarkan beliau membacakan ayat suci Al-Quran, Mush’ab terkesima. Ia kemudian menemui Rasulullah di kediaman kawannya Arqom untuk menyampaikan kekagumannya.

 

Mush’ab bertanya banyak hal tentang Islam, dan Rasulullah shalallahualaihi wassalam menjelaskan dengan halus namun terperinci, yang membuat Mush’ab semakin jatuh cinta dengan Islam. Ia kemudian mengakhiri pertemuannya dengan Rasulullah kala itu dengan bacaan syahadat.

 

Ketika Keislamannya Diuji

 

Setelah memeluk agama Islam, kehidupan  Mush’ab ngga lantas berjalan mulus, justru ujian datang bertubi-tubi dan salah satu yang terberat adalah masalah dengan orang tuanya. Ketika berita keislaman Mush’ab ke telinga sang ibunda, sang ibu tidak terima dan marah besar. Mush’ab lalu dihukum dan dikurung di penjara rumahnya oleh ibunya sendiri. Ibunya mengancam Mush’ab untuk tidak akan melepaskan anaknya dari penjara sampai dia kembali ke ajaran nenek moyangnya. Yup, kembali menyembah berhala.

 

Meskipun disiksa dan tak dianggap oleh keluarganya sendiri, Mush’ab pantang untuk keluar dari Islam. Hingga suatu ketika akhirnya Mush’ab berhasil kabur dari penjara untuk ikut hijrah bersama umat Islam Mekkah ke Habasyah. Sekembalinya dari Habasyah, orang-orang begitu kaget melihat penampilan Mush’ab. Penampilan rupawan nan gagahnya sirna karena pakaiannya jadi compang camping dengan tambalan kain di mana-mana. Ngga sedikit umat Islam yang menangis kagum kepada Mush’ab karena rela untuk meninggalkan kemewahan dunia demi Islam.

 

Wafat dalam Jihad

 

Ketika perang Uhud terjadi di tahun ke 3 Hijriyah, Mush’ab jadi salah satu sahabat Rasulullah yang berdiri di garda terdepan. Sayangnya karena regu pemanah tantara Islam mengabaikan instruksi Rasulullah, umat Islam terpukul mundur. Tentara Islam lari kocar kacir menyelamatkan diri, tidak halnya dengan Rasulullah dan beberapa sahabat terbaik yang bertahan, termasuk Mush’ab bin Umair.

 

Lawan semakin gencar menyerang, dan posisi Rasulullah beserta sahabat-sahabatnya yang bertahan semakin terdesak. Mush’ab maju melindungi Rasulullah dan menjaga bendera Islam. Dengan kegigihannya bertarung, tidak sedikit tentara lawan yang berhasil dikalahkan olehnya. Tapi serangan mendadak diluncurkan oleh pasukan kafir yang mengayunkan pedang tepat ke arah tangan kanan Mush’ab hingga tertebas.

 

Mush’ab tak gentar. Bendera yang semula dia pegang kuat di tangan kanannya lalu ia ambil dengan tangan kirinya. Lagi, pasukan kafir menebas tangan kiri Mush’ab hingga darah bercucuran. Bendera Islam lalu ia pegang dengan dagunya, hingga akhirnya tantara kafir menancapkan tombak di ulu hati Mush’ab dan Ia pun gugur dalam perang.

 

Setelah perang usai, Rasulullah bersedih dengan kematian sang sahabat. Kesedihannya semakin bertambah ketika ia melihat jenazah Mush’ab yang memprihatinkan. Kala itu pun tidak ada kain kafan yang cukup untuk menutupi jenazah Mush’ab, hingga akhirnya kain burdah kecil lah yang digunakan untuk sedikit menutupi jenazah Mush’ab.

 

Luar biasa bukan perjuangan Mush’ab demi nama Islam? Kisah Mush'ab mengingatkan kita bahwa hidup di dunia hanyalah sementara. Di masa mudanya yang bisa saja dia habiskan dengan penuh kenikmatan duniawi, justru dia lepaskan semua karena rasa cintanya pada Islam. Dan ketika dulu ia sempat hidup bergelimang harta, Mush’ab justru wafat dengan kondisi jenazah mengenaskan bahkan tanpa kain kafan. MasyaAllah..

 

Kalau kamu berada di posisi Mush’ab yang hidup bergelimang harta, rela kah kamu meninggalkan hartamu demi Islam seperti Mush’ab bin Umair?  

4
sabila ainur
sabila ainur a wanderer and a writer