Desi Wulandari Buruh teks serabutan

KISAH BAKSO MANG HUSEN DI MEKAH

1 min read

KISAH BAKSO MANG HUSEN DI MEKAH

Sebagai orang Indonesia, pasti sudah pernah seengganya sekali dalam hidup makan bakso. Betul kan? Nah, buat kamu yang sedang menjalankan ibadah haji atau berada di tanah suci dan kangen dengan makanan yang satu ini, ngga usah khawatir harus menahan kangen sampai pulang ke tanah air. Kamu bisa datang ke Bakso Mang Husen di Mekah, salah satu penjual bakso yang sudah terkenal di kalangan jemaah Indonesia. Rasa baksonya yang enak dan punya cita rasa yang sama dengan bakso di Indonesia jadi salah satu alasan mengapa dagangannya selalu ramai pembeli. Selain itu, di tanah suci juga jarang ada persaingan sesama pengusaha bakso.

 

Dagangan Bakso Mang Husen ini tempatnya bukan di sebuah rumah makan atau restoran, tapi di rumah majikannya. Pemilik nama asli Husein Abdul Azis Sulaiman menjadikan dagangan bakso sebagai usaha sampingan saja. Pekerjaan tetapnya ialah sebagai seorang supir pribadi di rumah pejabat departemen luar negeri Arab Saudi. Karena kebaikan majikan, maka semua kebutuhan dari Mang Husen ini dipenuhi dan bahkan diberikan kebebasan buat mencari usaha sampingan, dan akhirnya terbentuklah Bakso Mang Husen di Mekah. Kalau ada jemaah yang mau membeli baksonya, mereka bisa memesan lewat telepon atau datang langsung ke rumah tempat ia berjualan di Kholiidiah 1, tepat di depan Rusan

 

Mang Husen yang berasal dari Cibeber, Cianjur, Jawa Barat ini tinggal bareng istri dan lima anaknya di Mekah sejak tahun 1981. Usaha baksonya baru dirintis pada tahun 2005. Ide membuka usaha bakso ini diawali dengan pengalaman beliau yang pernah makan mencoba mi ayam bakso di suatu restoran di Mekah, dan rasanya kurang enak. Akhirnya sang istri mengusulkan untuk membuat sendiri. Hasilnya, rasa bakso buatannya bersama istri jauh lebih enak dibandingkan dengan bakso yang dibeli sebelumnya. Merintis usaha bakso dari awal sebelum bakso Mang Husen di Mekah jadi terkenal ini tentunya ngga mudah, dimulai dari ia menggelar karpet di sudut gang.

 

Saat masa awal berjualan, ia duduk di depan rumah dan mencegat jemaah asal Indonesia yang lewat. Mang Husen  menjajakan jualannya secara langsung ke konsumen, yaitu mendatangi satu persatu orang Indonesia yang lewat dan menawari bakso buatannya. Pendapatannya dalam sehari, Mang Husen hanya mendapatkan uang sekitar 30 Rial atau setara dengan Rp 90 ribu. Nah, sekarang, orang yang berbondong-bondong datang ke tempat bakso Mang Husen di Mekah. Kalau sedang ramai apalagi ketika musim haji, dalam sehari Mang Husen bisa menjual sampai 250 mangkok, dengan harga 9 Rial per mangkuknya. Berkat usahanya, ia bisa membeli tanah di kampungnya dan membiayai anaknya sekolah.

9
Desi Wulandari
Desi Wulandari Buruh teks serabutan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *