Salsabila A a wanderer and a writer

KEUTAMAAN UMROH DI BULAN SYABAN

1 min read

KEUTAMAAN UMROH DI BULAN SYABAN

Di bulan Syaban nampak jamaah umroh berbondong bondong pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah umroh, bahkan di bulan ini terlihat lebih ramai dibanding bulan bulan lainnya. Kenapa? Soalnya, bulan Syaban adalah termasuk bulan yang dimuliakan Allah Swt. Sementara secara bahasa, Sya'ban ini sendiri berasal dari kata syi'ab yang artinya jalan di atas gunung. Makna ini selaras dengan posisi bulan Sya’ban yang menyongsong bulan Ramadhan. Hal ini merupakan kiasan bahwa bulan kedelapan dalam kalender Hijriyah tersebut merupakan momen tepat untuk menapaki jalan kebaikan secara lebih intensif, mempersiapkan diri menyambut bulan paling mulia, yakni Ramadhan.

 

Posisi bulan Sya’ban yang terletak di antara Rajab dan Ramadhan seringkali kurang mendapat perhatian lebih dibanding dua bulan mulia yang menghimpitnya itu. Pada Rajab, keutamaan-keutamaan seputar puasa dan amalan lainnya kerap kita dengar. Di bulan Rajab pula kita mengenang peristiwa dahsyat yang dialami Rasulullah: Isra’ Mi’raj. Bulan Ramadhan lebih hebat lagi. Orang-orang seakan-akan menjadi manusia baru, berburu fadhilah dan pahala berlipat di bulan suci ini. Tidak demikian dengan Sya’ban. Dalam hadits riwayat Abu Dawud dan Nasai, Nabi menyebut Sya’ban sebagai bulan yang biasa dilupakan umat manusia. Dilupakan disini maksudnya bukan berarti terhina. Ia diabaikan manusia karena manusianya sendiri yang kurang menyadari kemuliaan bulan Sya’ban, bukan akibat bulan Sya’ban itu sendiri tidak mulia. Sikap ini biasanya hanya terjadi di kalangan awam atau orang-orang yang secara ruhani belum mendekat kepada Allah. Para salafus shalih memberi perhatian lebih pada bulan ini dengan beragam kegiatan ibadah, utamanya pada momen nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban).

 

Jamaah Umroh yang datang ke tanah suci di bulan Syaban ini begitu antusias sebab bulan Sya’ban merupakan sebuah sejarah dimulainya Ka’bah menjadi kiblat umat Islam yang sebelumnya adalah Masjidil Aqsha. Peristiwa peralihan kiblat ini ditandai dengan turunnya ayat 144 dalam Surat al-Baqarah:  “Sungguh Kami melihat wajahmu kerap menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.”

 

Para ahli tafsir mengutip pendapat Abu Hatim Al-Basti yang mengatakan bahwa Allah memerintahkan Rasulullah Saw untuk mengalihkan kiblat pada malam Selasa bulan Sya’ban yang bertepatan dengan malam nisfu Sya’ban. Kiblat menjadi simbol tauhid karena seluruh umat Islam menghadap pada satu tujuan. Beralihnya kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram juga menegaskan bahwa Allah tak terikat dengan waktu dan tempat.

 

Hal ini ditunjukkan dengan sejarah perubahan ketetapan kiblat yang tidak mutlak dalam satu arah saja. Umat Islam tidak sedang menyembah Ka’bah ataupun Masjidil Aqsha melainkan Allah Swt. Maka banyak jamaah Umroh yang tidak menyia-nyiakan bulan Sya’ban selama mereka di tanah suci dengan meningkatkan kedekatan mereka kepada Allah, melalui kontemplasi, dzikir, dan amal kebaikan.

 

 

Oleh: Firman Zamzami Lc

5
Salsabila A
Salsabila A a wanderer and a writer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *