Firman Zamzami Muhammad LC Alumni Damascus Univ Suriah | Pengasuh acara percikan Iman 908 Oz Radio Jakarta

KETENTUAN BERHAJI UNTUK PEREMPUAN

1 min read

KETENTUAN BERHAJI UNTUK PEREMPUAN

Salah satu syarat haji adalah Istitha’ah yaitu memiliki kemampuan. Di dalam hukum fikih, ada ketentuan khusus masalah mampu ini bagi seorang perempuan. Dan hal ini telah ditetapkan oleh para ulama fikih didalam beberapa kitab kitab mereka, seperti di antaranya adalah kitab fikih Islamy karya Syaikh Ibrahim Muhammad As Syalqini. Dimana beliau menyatakan bahwa ada 3 perbedaan ketentuan istithoah atau mampu bagi seorang perempuan dalam berhaji:
 
Mahrom

Wajib bagi seorang perempuan untuk berhaji dengan pendampingnya atau mahrom seperti suami atau ayahnya atau mahrom lainnya. Mahrom ini adalah seseorang yang tidak diperbolehkan untuk menikahi perempuan tersebut. Kemudian mahrom tersebut juga memiliki syarat harus amanah, baligh, berakal dan tidak fasik. Dalam masalah perempuan berhaji perlu mahrom ini tidak ada perbedaan apakah perempuan tersebut muda atau tua. Maka makruh tahriman bagi seorang perempuan yang berhaji tanpa mahrom sekalipun hajinya dianggap sah dalam hukum fikih.

Tidak dalam Masa Iddah

Seorang perempuan yang berhaji tidak dalam keadaan masa iddah akibat di ceraikan oleh suaminya atau ditinggal wafat suaminya. Maka apabila seorang perempuan berhaji dalam keadaan masa iddah yang belum selesai, sekalipun haji nya sah namun perempuan tersebut berdosa dan bermaksiat kepada Allah. Wallahu A'lam Bishawab.

Mampu Nafkah
Jika seorang perempuan berhaji dengan salah satu mahromnya misal ayahnya maka wajib baginya untuk memiliki kemampuan memberikan nafkah kepada anak anak yang ditinggalkannya. Namun jika seorang perempuan dibiayai hajinya bersama ayahnya oleh suaminya dan segala beban nafkah ditanggung oleh suaminya maka ia dianggap telah mampu.

Oleh sebab itu perlu diingatkan bahwa prinsip ibadah adalah ingin mendekatkan diri kepada Allah. Namun jika seorang perempuan tidak dianggap mampu dalam kaca mata syariat hendaknya tidak memaksakan diri yang berakibat malah membuatnya jauh dari Allah. Kemudian ibadah yang didasari mencari ridho Allah haruslah sesuai dengan ketentuan syariat yang telah ditetapkan. Maka dengan demikian, amal ibadah kita pun tidak akan sia-sia dan mendapat ridho Allah SWT.

 


image source: www.middleeasteye.net

2
Firman Zamzami Muhammad LC
Firman Zamzami Muhammad LC Alumni Damascus Univ Suriah | Pengasuh acara percikan Iman 908 Oz Radio Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *