Desi Wulandari Buruh teks serabutan

HUKUM QISAS DI TANAH SUCI DAN KISAH PARA TKI

1 min read

HUKUM QISAS DI TANAH SUCI DAN KISAH PARA TKI

Apa itu Qisas? Pasti kamu udah familiar banget ya dengan istilah satu ini. Qisas atau Kisas, dalam KBBI memiliki arti pembalasan dalam pelaksanaan hukum Islam, seperti hukuman bagi orang yang membunuh dibalas dengan membunuh lagi. Sedangkan menurut istilah, Qisas ialah suatu hukuman yang ditetapkan Allah SWT yang wajib dilaksanakan untuk menunaikan hak manusia. Salah satu negara yang cukup tegas menerapkan hukum Qisas atau hukuman mati adalah Kerajaan Arab Saudi.

 

Konstitusi negara menyatakan bahwa hukum yang berlaku di negara tersebut adalah hukum Islam. Dikutip dari laman deathpenaltyworldwide.org yang dikelola oleh Cornell Law School menggambarkan hukuman mati di Arab Saudi diberlakukan bagi tindak kriminal, di antaranya pembunuhan, terorisme, kepemilikan obat-obatan terlarang, perzinahan dan mengkhianati raja.

 

Ada tiga jenis pelaksanaan hukum Qisas di Arab Saudi, tergantung jenis kejahatan apa yang dilakukan terpidana, antara lain dengan cara dipancung dengan pedang, dirajam dengan batu sampai mati, dan ditembak mati. Sedangkan menurut penyebabnya, ada tiga jenis kejahatan yang membuat seseorang dapat dihukum mati. Pertama karena Hadd yang sudah tertulis jelas di dalam Al-Quran atau hadis. Kedua, karena Qisas, yaitu hukuman setimpal di mana kejahatan pembunuhan harus dibalas dengan hukuman mati. Ketiga, karena ta’zir yang ditetapkan berdasarkan kebijakan negara atau peradilan.

 

Berbeda dengan eksekusi mati di negara lain yang dilakukan secara tertutup dan rahasia, di Arab Saudi hukuman mati ini justru dilakukan di depan umum, seperti di alun-alun kota atau pelataran masjid. Hal ini tentunya mengundang kecaman pihak-pihak aktivis hak asasi manusia yang menilai hal tersebut tidak manusiawi. John R. Bradley dalam tulisannya Saudi Arabia Exposed menyebutkan bahwa proses eksekusi ini menjadi semacam 'hiburan' bagi masyarakat layaknya pertandingan sepak bola.

 

Hukuman mati ini ngga cuma berlaku buat masyarakat Arab Saudi, tapi juga buat pendatang seperti Warga Negara Indonesia yang mengadu nasib jadi tenaga kerja di sana. Kasus yang baru ini terjadi yaitu eksekusi Muhammad Zaini Misrin Arsyad, TKI asal Bangkalan, Madura. Ia harus menerima hukum Qisas pada Maret 2018 dengan cara dipancung karena tuduhan pembunuhan terhadap majikannya. Pada 2015, Siti Zainab, WNI yang juga asal Bangkalan, Madura, dihukum mati karena kasus pembunuhan pada tahun 1999. Dalam pekan yang sama, Karni binti Medi Tarsim asal Brebes, Jawa Tengah dieksekusi di Madinah. Tuti adalah Tenaga Kerja Indonesia kelima yang dieksekusi sejak 2011.

 

Sayangnya, hukum Qisas bagi para TKI tersebut, pemerintah Arab Saudi justru ngga memberitahu atau menyampaikan mandatory consular notification tentang eksekusi ini kepada perwakilan Republik Indonesia. Pada kasus Zaini Misrin yang melakukan pembunuhan pada 2004, pemerintah RI baru diberi tahu tentang status hukum Zaini ketika pengadilan Arab Saudi telah menjatuhkan vonis hukuman mati empat tahun kemudian. Begitu pula dengan kasus Tuti Tursilawati yang membuat Indonesia melayangkan protes langsung kepada Arab Saudi.

 

Kini, setelah Zaini dieksekusi, masih ada sekitar 20 orang Warga Negara Indonesia (WNI) yang menunggu putusan hukuman di Arab Saudi. Di antaranya yakni Tuty Tursilawati dan Eti binti Toyib asal Jawa Barat yang menunggu eksekusi mati setelah pada 2010 divonis bersalah karena kasus serupa. Pemerintah tentunya harus punya upaya konkret buat melakukan tindakan bagi warga negaranya yang sedang menghadapi hukuman mati di Arab Saudi dalam waktu dekat ini. Sedangkan jangka panjang sudah ada upaya lain agar kasus sejenis bisa ditekan.

 


image source: https://lampungsai.com/

2
Desi Wulandari
Desi Wulandari Buruh teks serabutan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *