sabila ainur a wanderer and a writer

HUKUM MEMBACA QUNUT DI MASJIDIL HARAM DAN NABAWI

1 min read

HUKUM MEMBACA QUNUT DI MASJIDIL HARAM DAN NABAWI

Di Indonesia, sudah jadi kebiasaan bahwa salat subuh harus diiringi dengan doa qunut, karena umat Islam di sini menganut mahzab Imam Syafi’i. Menurut mahzab Syafi’I, kalau melaksanakan salat subuh tanpa doa qunut maka akan dianggap kurang sempurna salatnya, meskipun salat subuh sudah sah hukumnya. Lalu, bagaimana hukum membaca qunut di Masjidil Haram dan Nabawi?

 

Kalau jemaah Indonesia yang sudah terbiasa membaca doa qunut akan sedikit terkejut ketika salat subuh di tanah suci karena di sana karena setelah rukuk, langsung dilanjutkan sujud. Namun ngga jadi masalah kalau kamu mengikuti imam di sana. Salat Subuh akan tetap sah karena qunut hanya sunah.

 

Dahulu kala, Imam dari dua masjid besar di Mekah dan Madinah ini membaca qunut dalam salat subuhnya. Namun, setelah kerajaan Arab Saudi dipegang oleh pemerintahan yang memiliki paham wahabi, mereka jadi mengharamkan membaca qunut di Masjidil Haram dan Nabawi. Sementara itu, mazhab Syafi’I berada di daerah Hejaz dan menjadi minoritas, karena pihak kerajaan sudah mengatur sistem ibadah di seluruh masjid yang ada di Arab Saudi. Persoalan qunut ini ternyata bukan cuma mazhab Syafi’I yang memperbolehkannya. Ada pula mazhab Maliki yang membaca qunut, tapi dibaca sebelum rukuk dan dengan suara yang pelan serta ngga perlu mengangkat tangan layaknya orang yang berdoa.

 

Meski begitu, ada beberapa jemaah umrah dan haji yang tetap membaca qunut ketika salat subuh di tanah suci. Mereka memanfaatkan waktu bangun dari rukuk sesaat sebelum imam sujud tanpa mengangkat kedua tangan. Akan tetapi, ada pendapat yang mengatakan membaca qunut dengan cara seperti itu sangat lemah. Jadi, alangkah lebih baiknya hindari dulu membaca qunut di Masjidil Haram dan Nabawi dan mengikuti imam seperti halnya yang pernah dilakukan Imam Syafi’i. Ketika kamu sedang berada di tanah suci, alangkah baiknya mengikuti Imam dan mengikuti mazhab yang digunakan di sana. Toh salat subuh yang dilakukan tetap sah asal syarat dan rukunnya telah terpenuhi.

 

Sebagai makmum (dalam artian salat berjamaah) juga tentunya harus mengikuti apa yang dilakukan Imam. Kamu ngga perlu berpindah mazhab atau memaksakan kehendakmu sendiri yang dianggap benar. Pada kondisi tertentu, lebih baik mengikuti aturan yang ada dan sudah diterapkan lebih dulu. Untuk menjaga perbedaan pendapat, tidak ada salahnya mengikuti pendapat bersama.

2
sabila ainur
sabila ainur a wanderer and a writer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *