Ica Khaerunisah Penulis lepas yang suka kopi sachet

HATI-HATI, JANGAN MUDAH PERCAYA DENGAN MITOS SEPUTAR HAJI

1 min read

HATI-HATI, JANGAN MUDAH PERCAYA DENGAN MITOS SEPUTAR HAJI

Experience is the best teacher, baik pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain. Maka, sudah seharusnya kita mengambil pelajaran dari tiap pengalaman, terutama dari pengalaman-pengalaman buruk. Supaya ke depannya, kita nggak mengalami hal buruk yang sama lagi. Termasuk saat akan pergi haji. Mendengar pengalaman-pengalaman yang diceritakan oleh mereka yang sudah pernah menunaikan ibadah haji akan jadi bekal berharga bagi kita.

 

Pasti kamu sering dong mendengarkan cerita dari kerabat tentang pengalaman haji mereka? Tak terkecuali cerita tentang kejadian buruk yang menimpa kerabat kita atau jamaah lain yang kebetulan berangkat bersama mereka. Misalnya, tentang jamaah yang sakit atau tersesat. Sayangnya, seringkali cerita pengalaman seperti itu dibumbui dengan mitos. Pasti kamu sudah sering dengar ya mitos seputar haji tentang kejadian buruk seperti itu dianggap sebagai balasan atas perbuatan mereka selama ini. Siapa yang nggak ngeri mendengar hal seperti itu coba? Tapi ingat, itu cuma mitos saja!

 

Apa buktinya kalau itu cuma mitos? Ya coba saja cari ayat al-quran atau hadist yang mengatakan tentang hal seperti itu. Karena memang nggak ada dalil maupun hadistnya. Kalau meminjam istilah kekinian, mitos seputar haji yang sudah sejak dulu beredar ini cuma pakai ilmu cocokologi. Yap, dicocok-cocokin saja.

 

Kalau mau logika-logikaan nih, memangnya siapa sih manusia yang nggak punya dosa selama hidup? Kalau memang tanah suci tempat manusia mendapatkan balasannya, pasti semua jamaah haji akan mengalami kejadian buruk. Kan semua manusia pernah melakukan kesalahan dan punya dosa, ya kan? Apakah iya semua jamaah mengalami kejadian buruk? Kan enggak.

 

Selain itu, kalau tanah suci mau dipercaya sebagai tempat mendapatkan balasan, maka manusia malah bisa menjadi semena-mena melakukan kejahatan. Toh untuk menghapuskan dosanya tinggal berangkat haji, tanpa takut pada balasan yang lebih besar di hari akhir nanti. Padahal, sudah jelas dalam Al-quran kalau hari pembalasan itu ada di hari akhir atau setelah kiamat. Salah satunya disebutkan dalam surat Al-Mujaadilah ayat 6 yang artinya:

 

“Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakanNya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.”

 

Juga, dalam surat Al-Mu’min ayat 17 yang artinya:

 

“Pada hari ini, tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya.”

 

Mitos seputar haji seperti itu sudah terlanjur merajalela. Sebenarnya, ada sisi positifnya juga kalau nggak ditanggapi secara berlebihan. Misalnya, mitos itu kita jadikan motivasi buat bertaubat dan menjadi pribadi yang lebih baik. Juga termotivasi buat bersilaturahmi ke sanak saudara dan kerabat sebelum berangkat haji, dengan harapan bisa memperingan langkah kita saat di tanah suci. Lalu, kalaupun memang kita mengalami kejadian buruk di sana, anggap saja sebagai ujian bagi kita. Siapa tau itulah jalan yang diberikan oleh Allah SWT untuk kita bisa menjadi haji yang mabrur. Kalau Allah SWT masih menegur kita, bukankah artinya Dia sangat menyayangi kita sehingga nggak membiarkan kita menjadi lebih buruk lagi? Jadi, bukan balasan yaa.

3
Ica Khaerunisah
Ica Khaerunisah Penulis lepas yang suka kopi sachet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *