Wahyu Tri Utami dreamer by night, reader by day

HAKIKAT THAWAF DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

1 min read

HAKIKAT THAWAF DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Thawaf sebagai salah satu bagian dari rangkaian ibadah umroh serta haji ternyata ngga sekedar jalan-jalan muter Kabah sebanyak tujuh kali. Hakikat thawaf jika dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari sangatlah terasa. Kabah, misalnya, dalam kehidupan umat Islam ialah sholat yang merupakan pusat dari eksistensi, cinta, keyakinan serta kehidupan. Ke arah Kabah inilah seorang Muslim yang sedang menemui ajal akan dihadapkan dan yang meninggal akan dikuburkan.

 

Padahal, Kabah sendiri adalah bangunan persegi dan kosong tanpa isi! Inilah pusat dari agama, sholat, cinta serta kehidupan dan kematian manusia. Kekosongan inilah yang dijadikan petunjuk arah Kabah bagi seluruh umat manusia yang bisa melepaskan diri dari belenggu diri sendiri serta menghadap kepada Allah. Kabah, sebagai sebuah kubus, memiliki 4 sisi berbeda yang menghadap ke segala arah, di mana keseluruhan sisinya akan melambangkan ketiadaan arah.

 

Saat thawaf berlangsung, Kabah akan dikelilingi jutaan manusia penuh haru. Kabah bagai matahari yang menjadi pusat tata surya. Lautan manusia di sekitar Kabah bergerak dalam gerakan sirkuler. Ini berarti, Kabah melambangkan konsistensi serta keabadian Allah, sementara lautan manusia ialah gambaran dari aktivitas serta transisi makhluk-makhluk-Nya. Selama proses thawaf, jamaah akan terus bergerak seolah dilakukan oleh satu unit manusia saja, ini karena di dalamnya sudah ngga ada lagi identifikasi individual. Kita ngga akan lagi membedakan antara laki-laki dan perempuan, kulit hitam atau kuit putih. Semuanya berbaur dan sama-sama menghampiri Allah. Hakikat thawaf yang gerakannya abadi dan diatur oleh disiplin adalah cerminan keteraturan alam semesta.

 

Thawaf sendiri akan dimulai dari Hajar Aswad sebagai perlambang tangan kanan Allah. Melalui batu hitam ini, manusia akan memilih jalan, tujuan serta masa depannya sesuai firman Allah. Berikutnya, jamaah akan memasuki orbit bersama banyak orang dan bergerak serta ngga akan berhenti walau didesak sana-sini. Seolah-olah, jamaah mendapat kehidupan baru dan menjadi bagian dari orang ramai itu.

 

Tujuan yang hendak dicapai ialah menemui Allah, walau kenyataannya jamaah sibuk berdesak-desakan. Hal ini sebenarnya melambangkan posisi kita yang sedang berserah diri pada Allah. Sama halnya seperti Siti Hajar kala ia pasrah secara mutlak karena cintanya pada Allah. Ia hidup di lembah tanpa air, tanpa teman dan tanpa tempat berteduh namun cintanya bisa menggantikan semua kebutuhan tersebut. Hakikat thawaf ini sangat banyak, berkaitan dengan kehidupan dan ngga disangka-sangka, kan?

2
Wahyu Tri Utami
Wahyu Tri Utami dreamer by night, reader by day

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *