Salsabila A a wanderer and a writer

GELAR HAJI HANYA BERLAKU DI INDONESIA, KOK BISA?

1 min read

GELAR HAJI HANYA BERLAKU DI INDONESIA, KOK BISA?

Sudah jadi kebiasaan bagi masyarakat Indonesia untuk memberi gelar haji dan hajjah buat mereka yang baru kembali dari Tanah Suci untuk menunaikan rukun Islam terakhir ini. Tambahan inisial H atau Hj langsung ditambahin di depan nama seseorang. Tapi, ternyata pemberian gelar haji dan hajjah ini hanya terjadi di Indonesia, lho! Kok bisa?

 

Usut punya usut, pemberian gelar baik haji maupun hajaah untuk orang-orang yang sudah menunaikan ibadah haji ini sama sekali ngga termasuk syariat yang diajarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ssalam. Tren ini ternyata warisan aturan atau konspirasi yang diturunkan pemerintah kolonial Belanda di masa penjajahan. Kala itu, gerakan peribadahan yang dilakukan organisasi Islam memang adalah musuh besar bagi pemerintah kolonial.

 

Kenapa bisa begitu? Karena sepulangnya tokoh agama dari Tanah Suci, mereka akan membawa ajaran Islam kemudian membangun organisasi berlandaskan Islam. Contohnya nih, ada Muhammad Darwis pendiri Muhammadiyah dan Hasyim Asyari pendiri Nahdlatul Ulama. Ada lagi Samanhudi yang merupakan pendiri Sarekat Dagang Islam serta HOS Cokroaminoto yang mendirikan Sarekat Islam.

 

Nah, di sinilah Belanda merasa terancam. Kalau sampai semakin banyak orang pulang haji trus mendirikan organisasi Islam, bakal muncul rasa persatuan serta persaudaraan. Bisa-bisa hal ini memicu pemberontakan pada pemerintah kolonial. Karena itulah Belanda membatasi adanya pergerakan organisasi Islam, dengan cara membatas aneka kegiatan peribadatan, termasuk dakwah serta haji.

 

Pemerintah Belanda juga terus mengawasi pergerakan organisasi ini sampai mendirikan tempat karantina buat para jamaah hai di Pulau Khayangan dan Pulau Onrust, Kepulauan Seribu. Kata Belanda sih tempat ini dimaksudkan untuk menjaga kesehatan, padahal calon jamaah haji yang dianggap membahayakan bakal disuntik mati dengan sejuta alasan. Ngga jarang pula ada calon haji yang ngga pulang-pulang ke kampungnya karena masuk karantina ini.

 

Gelar haji sendiri tertuang dalam Peraturan Pemerintah Belanda Staatsblad tertanggal tahun 1903. Dalam peraturan tersebut, pemerintah mengharuskan orang-orang yang sudah berhaji untuk menambahkan gelar di depan namanya, yaitu Haji untuk laki-laki dan Hajjah untuk perempuan. Hal ini jelas bukan tanpa alasan, dong. Belanda melakukan ini supaya mereka bisa lebih gampang mengawasi kegiatan yang mereka lakukan ke depannya. Ekstremnya lagi, Belanda bisa dengan mudah melakukan pencarian orang-orang yang dianggap punya potensi untuk memberontak.

 

Kalau ditilik dari sejarahnya, ternyata ada kisah miris di balik pemberian gelar haji dan hajjah ini. Orang-orang yan sudah berhaji akan diawasi ketat kegiatannya dan bahkan dicari lalu dibunuh jika ketahuan memberontak. Dari sini kita tahu bahwa ngga ada anjuran ataupun aturan dalam memberikan gelar haji pada mereka yang sudah melangsungkan ibadah ke Tanah Suci. Ngga perlu deh ya mempertahankan warisan pemerintah kolonial ini. Negara kita sudah merdeka, kok!

 

Oleh: Wahyu Tri Utami

 

image: www.viva.co.id

1
Salsabila A
Salsabila A a wanderer and a writer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *