Wahyu Tri Utami dreamer by night, reader by day

DUA HIKMAH DI BALIK IBADAH SA’I

1 min read

DUA HIKMAH DI BALIK IBADAH SA’I

Ibadah haji terdiri dari serangkaian kegiatan yang nggak boleh terlewat satu sama lain dan harus dilakukan secara berurutan. Salah satuna adalah sa’i. Rukun haji satu ini juga wajib dilaksanakan saat ibadah umroh, lho. Ibadah sa’i sebenarnya memberi gambaran serta pelajaran pada kita akan dua hal terpenting yang wajib untuk selalu dipelihara dalam perjalanan hidup di dunia. Apa aja, sih?

 

Pertama, totalitas kepasrahan pada Allah subhanahu wa ta’ala.  Kedua, totalitas perjuangan untuk mengimbangi totalitas kepasrahan itu. Kalau kita lihat dari kacamata Islam, keduanya lebih dikenal sebagai tawakkal dan ikhtiar. Baik tawakkal maupun ikhtiar nggak bisa dipisahkan satu sama lain. Keduanya adalah kesatuan yang saling berkaitan dan juga saling mendukung agar dapat tercapai keseimbangan perjalanan kehidupan guna meraih kebahagiaan.

 

Semua tujuan serta cita-cita dalam hidup nggak akan tercapai kalau kita nggak mendukungnya dengan ikhtiar alias totalitas usaha untuk meraihnya. Kita diwajibkan untuk berusaha semaksimal dan sekeras mungkin biar dapat meraih tujuan kehidupan. Tapi, sekeras apapun usaha kita tetap nggak akan bermakna atau bahkan berakhir sia-sia kalau nggak dibarengi totalitas kepasrahan diri pada Allah subhanahu wa ta’ala, Tuhan yang menentukan segala hasil usaha kita.

 

Nah, ibadah sa’i jadi perlambang tawakkal serta ikhtiar itu. Menurut sejarahnya, Siti Hajar nggak hanya duduk melongo sembari menunggu keajaiban jatuh dari langit. Ia berusaha dengan cara berlari kesana kemari dari bukit Shafa ke bukit Marwah untuk mencari air demi sang putra, Ismail. Nggak ada tuh dalam sejarahnya Siti Hajar hanya duduk dan nangis-nangis putus asa. Ia terus mengerahkan segenap tenaga, kehendak serta pikiran untuk terus bergerak dan berjuang. Pencarian air ini adalah perlambang pencarian materi ataupun kebutuhan hidup yang ada di atas Bumi tempat kita tinggal.

 

Sa’i juga jadi isyarat akan sikap pantang menyerah. Dalam hidup ini, tiap orang diharuskan siap berjuang keras tanpa kenal lelah. Eits, jangan lupa untuk mengimbangi semua usaha yang dilakukan dengan doa. Ketaqwaan pada Allah subhanahu wa ta’ala nggak boleh terlewat di tiap usaha kita dalam meraih sesuatu. Inilah sebagian makna yang tergambar dalam ibadah sa’i di mana jamaah umroh maupun haji akan mendaki naik turun bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali.

 

Dalam hidup, kita harus siap menghadapi berbagai kemungkinan. Kadang kita gagal, namun kegagalan itu seharusnya menjadikan kita semakin kuat. Kadang kita meraih keberhasilan sebagai buah dari kerja keras, namun jangan sampai kesuksesan itu membuat kita lupa pada Sang Pencipta. Itulah tujua hidup yang hendak dicapai lewat sikap tawakkal serta ikhtiar ini.

1
Wahyu Tri Utami
Wahyu Tri Utami dreamer by night, reader by day

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *