Responsive image
0
0
0

HARAPAN SEPULANG HAJI

Tidak semua orang yang berangkat Haji mendasarkan niatnya secara tepat, ada saja sementara orang yang berangkat Haji, hanya karena mengikuti apa yang dilakukan oleh teman, tetangga, atau orang pada umumnya. Oleh karena banyak orang menunaikan ibadah Haji, maka mereka pun hanya sekedar ikut ikutan. Hal seperti ini menjadikan tidak sedikit orang yang pulang Haji, namun sholatnya belum ditunaikan secara sempurna. Bahkan ada saja tatkala di Makkah ataupun juga di Masjid Nabawi di Madinah, ketika menjalankan sholat saja tampak belum terlatih, apalagi belum bisa membaca al Qur'an.
Orang-orang yang berhaji dengan niat beradaptasi dengan lingkungan seperti itu memang tidak bisa diharapkan terlalu banyak bisa berhasil mengubah perilakunya, padahal sangat diharapkan adanya peribahan prilaku sesupang Haji. Hal ini disebabkan mereka berangkat Haji semata mata karena mampu membayar ongkosnya. Padahal semestinya berhaji benar-benar didasarkan niat ikhlas untuk mendapatkan Haji yang mabrur, sehingga diharapkan setelah pulang dari tanah suci berhasil mengubah perilakunya sehari-hari.
Harapan terhadap orang-orang yang telah menunaikan ibadah Haji sedemikian berat, misalnya harus selalu jujur dan adil, peduli pada orang miskin dan anak yatim, dan jika kebetulan menjadi pejabat tidak mendekati tindak kurupsi dan seterusnya. Orang percaya bahwa Haji bisa mengubah perilaku. Oleh karena itu tatkala ada orang yang dikenal sudah menunaikan ibadah Haji, tetapi masih berbuat yang tidak semestinya, maka langsung mendapatkan kalimat yang tidak enak didengar, misalnya sudah Haji perilakunya masih sama saja dengan mereka yang belum melihat pelataran ka'bah. Komentar seperti itu kiranya sah-sah saja disampaikan. Paling tidak dengan komentar itu, mereka memiliki keyakinan bahwa Haji memang memiliki kekuatan untuk mengubah perilaku bagi mereka yang menjalankannya. Hanya saja memang, tidak semua orang yang menjalani Haji mendapatkan haji mabrur. 
Mereka yang tidak mendapatkan kemambruran Haji akan sama saja perilakunya antara sebelum dan sesudahnya. Sesungguhnya tidak saja haji yang diharapkan berhasil merubah watak atau perilaku. Sholat lima waktu, dan juga dzikir yang diucapkan pada setiap saat seharusnya menjadi kekuatan untuk mengubah diri seseorang. Disebutkan dalam al Qur'an bahwa sholat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Akan tetapi pada kenyataannya, kita saksikan banyak orang yang melakukan perbuatan tercela, padahal sehari-hari mereka sholat pada setiap waktu.  Jadi ibadah Haji dan juga ibadah lainnya tidak selalu berhasil mengubah perilaku manusia jika tidak ditumbuhkan akr ikhlas dan niat yang benar saat melaksanakannya

 

Artikel Rekomendasi