Responsive image
0
0
0

DAM BAGI YANG UZUR WAJIB HAJI

Setiap jamaah Haji yang tiba di tanah suci selalu ditawari untuk membayar dam yaitu menyembelih seekor kambing, sebab kebanyakan jamaah Haji Indonesia mengambil jenis Haji Tamatu’.  Bahkan ada jamaah Haji yang sudah diambil dam nya saat masih berada di asrama Haji Indonesia. 
Tawaran membayar dam ini juga terlihat banyak di rumah sakit Indonesia, jamaah Haji yang sakit tersebut diminta untuk membayar sejumlah uang untuk membayar dam oleh oknum petugas Haji atau para mukimin yang berkeliaran dirumah sakit. Mereka memungut dam tersebut tanpa memberitahukan hukum tentang dam tersebut kepada jamaah Haji dan penyebab dam itu harus dibayar.
Oleh sebab itu jamaah Haji hendaknya memperdalam hukum tentang Haji ini, sehingga mengetahui dengan jelas penyebab dam ini harus dibayarkan ketika mereka uzur atau sakit. Sebab didalam hukum fiqih, seseorang harus membayar dam jika wajib haji itu tidak dilaksanakan. Dam dalam kitab Matan Taqrib karya Syekh Abu Syuja’ terbagi atas beberapa kriteria, sesuai dengan larangan haji yang dilaksanakan atau kewajiban haji yang ditinggalkan. Kriteria dam untuk orang yang meninggalkan wajib haji dalam Matan Taqrib adalah sebagai berikut. 
Artinya, “Dam wajib disebabkan meninggalkan ibadah (dalam hal ini wajib haji) dipilih secara berurutan (sesuai kondisi). Yang pertama, dengan seekor kambing. Jika tidak ada kambing, maka ditunaikan dengan berpuasa sepuluh hari. Tiga hari ketika berada di Mekkah, dan tujuh hari ketika kembali ke kampung halaman.”
Dalam mazhab Imam Syafii, bahwasanya wajib Haji mencakup lima hal berikut.
1. Memulai Ihram dari Miqat.
Seseorang yang memulai haji akan melaksanakan ihram, dengan berniat, lalu mengenakan pakaian ihram. Amaliyah ihram ini harus dilakukan di miqat yang telah ditetapkan. Miqat dibagi menjadi dua, yaitu miqat zamani dan miqat makani. Miqat zamani ini adalah waktu bagi seorang jamaah haji untuk memulai ihram, mulai bulan Syawwal sampai bulan Dzulhijjah. Kemudian, selain memerhatikan waktunya, penting diketahui untuk miqat makani adalah lokasi tempat dimulainya ihram. Lokasi miqat makani ini berbeda-beda berdasarkan daerah masing-masing, dan disebutkan tiap-tiap patokannya dalam berbagai kitab fikih.
2. Menginap (Mabit) di Muzdalifah
Kegiatan ini dilakukan seusai ritual wukuf di Arafah, tepatnya saat terbenamnya matahari. Muzdalifah ini adalah lokasi di antara Arafah dan Mina. Hendaknya menginap di sana sekiranya sebagian malam saja, tidak wajib sampai Subuh esok hari tiba.
3. Melempar Jumrah
Setelah menginap di Muzdalifah seorang jamaah haji menuju tempat-tempat jumrah, dan melempar masing-masing tujuh kerikil. Waktunya merentang sejak tengah malam Idul Adha sampai waktu maghrib. Jumrah sendiri ada tiga macam: Jumrah ula, jumrah wustha dan jumrah aqabah.
4. Menginap di Mina pada dua malam hari Tasyriq
Setelah ritual melempar jumrah, jamaah haji menuju Mina dan menginap di sana pada hari Tasyriq. Menginap ini diartikan untuk bermalam pada sebagian besar waktu pada dua hari Tasyriq di Mina itu.
5. Thawaf wada’
Thawaf ini dilakukan setelah menunaikan semua amalan haji, dan hendak keluar dari Mekkah.

 

Artikel Rekomendasi