Responsive image
0
0
0

KEGIATAAN JAMAAH PADA 10 DZULHIJJAH

Setelah jamaah Haji selesai mabit di Muzdalifah maka jamaah Haji akan diangkut dengan bus yang telah disediakan oleh pihak Muasassah menuju Mina untuk mabit dan melontar jumroh sebagai sebuah rukun yang harus kerjakan oleh setiap jamaah Haji. Maka ada beberpa hal yang mesti diketahui oleh setiap jamaah Haji yang akan melontar jumroh yaitu syarat dari melontar jumroh tersebut

Didalam hukum fikih syarat sah untuk melempar Jamroh sebagai berikut:

1. Menjadikan target lemparan adalah Jamroh yaitu tiang besar yang berada di jamarat, untuk saat ini terdiri dari tiga tingkat.

2. Melempar sebagaimana mestinya dan dengan menggunakan tangan. Bukan meletakkan atau sekedar menjatuhkan batu atau menggunakan alat untuk melontar

3. Lemparan harus mengenai sasaran tiang jamarat. Oleh sebab itu saat melontar batu posisi jamaah jangan terlalu jauh

4. Lemparan menggunakan batu kecil. Jangan mengikuti jamaah Negara lain dimana mereka melontar dengan sandal atau batu besar sebab menyalahi sunnah dan aturan.

5. Melempar tujuh kali dan setiap lemparan menggunakan satu kerikil.

6. Melempar setelah masuk waktunya.

Adapun bagi jamaah Haji yang akan melontar jumroh maka pada setiap lemparan disunnahkan membaca : Bismillahi Allahu akbar

Apabila kerikil habis, boleh menggunakan kerikil yang terjatuh bekas lemparan orang lain, namun hal ini hukumnya makruh, maka sebaiknya jamaah haji membawa batu kerikil lebih saat mengambil di Muzdalifah.

Untuk hari pertama jamaah sampai di Mina maka yang dilempar hanya Jamroh Aqobah yang posisinya berada paling ujung kemudian setelah melempar jumroh, potonglah rambut minimal 3 helai. Memotong Rambut atau tahalul ini adalah rukun haji. Sebab dengan melempar jamroh aqobah dan memotong rambut, maka jama’ah haji telah bertahallul pertama, dan keluar dari larangan-larangan Ihrom kecuali berhubungan suami istri.

Setelah itu jamaah Haji bergerakmenuju MasjidilHaram untuk melaksanakan thawaf Ifadhah, dan thawaf Ifasdah ini juga masuk dari rukun Haji yang harus ditunaikan jamaah. Waktunya dimulai setelah pertengahan malam 10 Dzulhijjah dan waktu akhirnya tidak terbatas selama hidup, boleh diakhirkan setelah sa’i atau sebelum kembali dan itu tidak dikenakan Dam, namun apabila mampu, seyogyanya dilakukan pada waktu afdhalnya yaitu setelah Jamroh Aqobah dan potong rambut

Dengan melaksanakan Thawaf Ifadhah, jama’ah Haji telah melakukan tahallul kedua, maka ia telah keluar dari semua larangan Ihram termasuk berhubungan suami istri