Responsive image
0
0
0

WARNA KAIN IHROM

Masalah kain ihrom memang sering dipertanyakan oleh jamaah Haji atau umroh, dimana sebagian jamaah sering mempertanyakan masalah warna pakaian yang harus dikenakan oleh mereka saat hendak thawaf atau wukuf. Sebab diantara jamaah wanita ada yang ingin mengenakan pakaian ihrom dengan warna yang berbeda, maklum kebanyakan jamaah Indonesia selalu ingin tampil beda dengan jamaah lainnya.

Maka untuk menjawab pertanyaan ini marilah kita merujuk perkataan seorang ulama hukum Islam yang masyhur dari mazhab syafi’i bernama Imam Nawawi dalam kitab Roudhoh, dimana beliau menyatakan “ Disunnahkan memakai izar (sarung, pakaian bagian bawah) dan rida' (selendang, pakaian bagian atas) berwarna putih dan baru atau yang telah dicuci ketika ihram dan makruh jika seseorang menggunakan warna selain putih. Adapun menggunakan kain ihrom yang diwarnai menurut Imam Nawawi dihukumi makruh sebab Nabi saat berihrom menggunakan pakaian berwarna putih.

Berbeda dengan mazhab maliki yang memperbolehkan kain yang diwarnai putih dengan minyak asalkan bukan minyak misik atau minyak ambar.  Dan ulama mazhab maliki juga memperbolehkan seseorang ketika ihrom memakai pakaian yang selain warna putih, tapi yang sunah adalah memakai pakaian yang berwarna putih. Dalil ulama Malikiyah ini adalah sebuah hadist shohih Bukhori dalam bab apa yang dipakai oleh orang ihram berupa pakaian, selendang dan sarung. Aisyah radhiyallaahu 'anhaa memakai pakaian pakaian yang dicelup ‘ushfur dalam keadaan beliau ihram.

Kemudian dari riwayat yang berasal dari Said bin Jubair, beliau melihat salah seorang istri Nabi yang thawaf mengelilingi Ka’bah sambil mengenakan pakaian yang dicelup dengan ‘ushfur warna merah.

Perbuatan Aisyah sebagaimana dalam riwayat di atas sebenarnya sudah jelas menunjukkan bahwa seorang perempuan muslimah diperbolehkan memakai pakaian berwarna merah polos. Bahkan pakaian merah polos adalah pakaian khas bagi perempuan .

Oleh sebab itu untuk wanita diperbolehkan berihram dengan pakaian yang dia mau, yg utama adalah wanita tadi saat berihram dgn pakaian yg tidak menarik pandangan laki-laki, maksudnya memakai pakaian yang wajar dan tidak mengundang fitnah.  Kemudian ketika ihram tidak boleh memakai cadar, namun boleh menjulurkan jilbabnya ke depan, setelah selesai ihram baru boleh pakai cadar lagi.halini sebagaimana Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda tentang wanita yang sedang ihram.

"Artinya : Janganlah wanita bercadar, dan janganlah dia memakai kaos tangan"  [Hadits Riwayat Bukhari dalam shahihnya]

Artikel Rekomendasi