Responsive image
0
0
0

HIKMAH DIBALIK PERINTAH MELONTAR JUMROH

Mabit di Mina untuk melontar jumroh merupakan salah satu rukun yang harus dikerjakan oleh setiap jamaah Haji, pekerjaan melontar ini merupakan napak tilas dari Abul Anbiya yaitu nabi Ibrohim Alaihisalam. Hikmah dari perintah melontar jumroh ini salah satunya adalah bentuk gambaran peperangan kita kepada iblis yang selalu menggoda kita untuk ikut kufur bersamanya.

Batu kerikil yang dilemparkan ibarat peluru dan kita harus menembakkan 70 peluru kepada iblis di pertemuan Mina. Peluru harus di tembakkan ke arah kepala, dada dan jantung musuh karena hanya peluru yang tepat sasaran yang akan diperhitungkan. Mina adalah medan tempur. Mina adalah negeri Allah dan syaitan. Kita diibaratkan hidup dalam  penjara diri sendiri, untuk itu kita harus melawan memerangi diri sendiri, kita harus membebaskan diri sendiri dari penjara, memberontak melawan diri sendiri dan dengan tangan sendiri. Lebih dari itu,  mengorbankan anak sendiri sebagaimana yang dicontohkan nabi Ismail as, dengan harapan agar kita terangkat ke tingkat kesadaran dan kreativitas yang sedemikian tinggi sehingga kita dapat hidup sesuai dengan kehendak Allah dan tidak menjadi manusia yang hanya menghamba kepada alam.

Dunia ini berada di bawah otoritas “kehendak Allah” dan diatur oleh diterminasi ilmiah, ketika berdiri di tebing sungai manusia, kita memiliki kebebasan umtuk mengambil keputusan, tetap dan mati disana dan atau mencebur dan ikut mengalir dengan mereka. Gelombang manusia ini mendobrak tembok batas Mina dan menaklukkan negeri Iblis tersebut. Jika kita menceburkan diri dalam gelombang manusia, maka kita akan mamperoleh kemenangan karena kita telah bertekat untuk menghampiri Allah, danmenjadi masyarakat abadi yang senantiasa bergerak, bagaikan sungai menggelora yang akan menerjang setiap karang dan bendungan dan akhirnya akan mencapai lautan. Mengalahkan syaitan dan nabi Ibrahim as mengorbankan puteranya Ismail sesuai dengan perintah-Nya : “Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya manusia, dan minta ampunlah kepada Allah, bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.2:199).

Ketika bangunan jumrah melambangkan ketiga syaitan yang satu sama lain dipisahkan dalam jarak 100 meter. Masing-masing merupakan sebuah “monumen” yang setahun sekali wajah dicat putih. Pada hari pertama jumrah Ula dan Wustha dilalui saja, kita langsung menembak jumrah Aqobah yang terbesar karena ketika berhala terakhir jatuh, maka berhala pertama dan kedua tidak berdaya lagi. Melempar jumrah merupakan tahap terakhir dari evolusi dan idealiasme, tahap kebebasan mutlak dan kepasrahan mutlak dimana kita berperan sebagai Nabi Ibrahim as yang membawa puteranya Ismail kita untuk dikorbankan di tempat ini. Siapakah Ismail kita masing-masing ? kedudukan kita ? harga diri kita ? cinta kita ? keluarga kita ? keelokan kita ? kelas sosial kita ?. Apapun Ismail kita akan bawa dan kita korbankan di tempat ini. Ismail kita adalah sesuatu yang melemahkan iman kita, sesuatu yang membuat kita enggan menerima tanggung jawab, sesuatu yang membuat kita memikirkan kepentingan kita sendiri, sesuatu yang membuat kita tidak dapat mendengarkan perintah Allah dan menyatakan kebenaran. Sesuatu yang membuat kita mengemukakan alasan demi kemudahan kita dan sesuatu yang membutakan mata dan menulikan telinga kita. Kini kita berperan sebagai Ibrahim dan kelemahan Ibrahim adalah kecintaannya pada Ismail, oleh karena itu ia digoda oleh syaitan. Ismail bukan hanya seorang putera bagi Ibrahim, ia adalah buah yang didambakan seumur hidupnya  dan hadiah yang diterimanya sebagai imbalan karena telah memenuhi hidupnya dengan perjuangan. Namun tiba-tiba Allah mewahyukan untuk menyembelih Ismail dengan tangannya sendiri, maka kedudukan hatinya tidak tertanggungkan dan terbayangkan, ia gemetar, goyah sekan-akan hendak akan roboh, batinnya sangat goncang menerima wahyu itu. Tetapi wahyu itu adalah perintah Allah. dan nabi Ibrohim ternyata lebih mencintai Allah dibanding segala apa yang dimilikinya 

Artikel Rekomendasi