Responsive image
0
0
0

Kisah Tauladan Ibunda Nabi Ismail, Siti Hajar

Diriwayatkan dalam beberapa hadist bahwa sosok Siti Hajar adalah pribadi yang penuh dengan kesabaran dan cinta kasih kepada anaknya, Ismail. Siti Hajar yang berasal dari Mesir adalah seorang budak pemberian Raja Fir`aun kepada Nabi Ibrahim. Siti Hajar dan majikannya, Sarah sangatlah dekat. Sarah sendiri adalah istri sah Nabi Ibrahim yang ia bawa dari kampung halamannya.

 

Nabi Ibrahim dan Siti Sarah pergi menuju Mesir untuk mengadu nasib yang lebih baik lagi. Di sanalah Nabi Ibrahim dan Siti Sarah bertemu dengan Siti Hajar, seorang budak milik Raja Fir`aun. Karena kecantikan yang dimiliki Siti Sarah, Raja Fir`aun hendaknya menjadikannya seorang selir. Namun dengan kuasa dari Allah, maka Raja Fir`aun mengurungkan niatnya tersebut dan malah menghadiahkan Siti Hajar sebagai budak kepada Nabi Ibrahim.

 

Setelah bertahun-tahun pernikahan mereka berdua tidak memiliki anak, Siti Sarah meminta kepada Nabi Ibrahim untuk menikahi Siti Hajar. Karena desakan dari istrinya, akhirnya Nabi Ibrahim mau menikahi Siti Hajar sebagai istri kedua. Dari pernikahan keduanya tersebut, Nabi Ibrahim akhirnya dikaruniai seorang anak lelaki tampan bernama Ismail.

 

Kelahiran Ismail tidak serta merta membuat rumah tangga mereka bertiga menjadi akur. Rasa cemburu yang dimiliki Siti Sarah akhirnya membuat Nabi Ibrahim memutuskan untuk  memindahkan Siti Hajar dan Ismail ke suatu tempat.

 

Ketika sampai di sebuah lembah yang gersang, Nabi Ibrahim meninggalkan anak dan istrinya di bawah pohon. Dalam keadaan yang terdesak, Siti Hajar mencoba untukmencari sumber mata air di tengah gurun untuk Ismail yang terus menerus menangis.

 

Siti Hajar berjalan kesana-kemari di tengah gurun yang panas dan matahari yang bersinar terik, berharap dapat mencari sumber air. Hingga akhirnya ketika berada kedua bukit, Siti Hajar menemukan gundukan tanah yang basar. Ketika digali semakin dalam, mukjizat Allah datang dengan memunculkan sebuah sumber mata air yang kini dinamakan air zam-zam.

 

Secara garis besar, ada tiga sikap mulia yang dapat kita contoh dari ibunda Nabi Ismail adalah pertama, taat kepada Allah. Siti Hajar sangat taat kepada Allah. Kedua, sabar dalam berjuang dan ketiga, tawakkal dan bersyukur setelah berusaha.

 

Kini kisah Siti Hajar yang berulang-ulang berusaha mencari sumber air untuk Ismail, mengahruskan ia untuk berlari di antara bukit Safa dan Marwa telah menjadi sebuah kebiasaan selama melakukan ibadah haji dan umrah. Para jamaah haji dan umrah diharuskan untuk berjalan di antara bukit Safa dan Marwa selama tujuh kali. Hal tersebut ditujukan untuk mengenang kisah Hajar dalam mencari air. Ritual ini melambangkan perayaan dari keibuan dalam Islam, begitupula dengan kepemimpinan seorang wanita.

 

Artikel Rekomendasi