Responsive image
0
0
0

PENJAGA MUSHOLA PERGI HAJI SETELAH 34 TAHUN

Pergi haji, menunaikan rukun Islam yang ke lima, berdoa di tempat terbaik untuk  berdoa, bertawaf mengelilingi ka'bah, berwukuf di Arafah, mendatangi lokasi-lokasi bersejarah di tanah suci adalah impian semua umat yang merindukan tanah suci. Hati mereka bergetar karena sangat rindu dan tidak sabar untuk lekas mendatanginya. Sehingga usahapun dilakukan lebih keras. Seperti seorang kakek yang harus menunggu 34 tahun sebelum akhirnya berangkat ke tanah suci.

 

Berawal dari kisah seorang remaja di tahun 1950an. Remaja tersebut tumbuh seperti remaja pada umumnya kala itu. Namun yang membedakan adalah remaja tersebut sudah memupukkan niat dalam hatinya untuk pergi haji saat sudah memiliki rezeki nanti. Niat itupun disimpan dan dipupuk hingga semakin besar dan kuat. Remaja tersebut tumbuh dan menjadi dewasa. Akhirnya remaja yang beranjak dewasa itu bekerja sebagai teknisi.

 

Namun, setelah ia tidak lagi bekerja sebagai teknisi tak banyak yang bisa ia lakukan. Akhirnya, ia mendedikasikan diri dan hidupnya untuk menjaga mushola di dekat rumahnya. Pria ini tinggal di Palembang, Sumatera Selatan. Sehari-hari yang ia lakukan adalah menjaga mushola yang bernama Nurul Yakin di dekat ia tinggal. Dengan sepenuh hati ia menjaga, membersihkan, dan sangat bertanggungjawab atas mushola itu.

 

Selain menjaga mushola, Ia pun dipercaya untuk memimpin shalat jamaah di mushola sehari-hari. Sambil mengimami jamaah, ia pun berdoa agar selalu diberikan kesehatan dan umur panjang agar dapat melaksanakan ibadah haji sebelum akhir hayatnya.

 

Niatnya sejak remaja, bukan tanpa usaha. Selama ia masih bekerja sebagai teknisi, ia telah mulai menabung dari gaji yang ia dapatkan. Tak berhenti sampai di situ, sejak tahun 1980an hingga pada akhirnya ia berhasil pergi haji 34 tahun kemudian, ia tetap giat menabung dan berusaha meskipun dengan berbagai kendala pastinya.

 

Allah tahu kebutuhan hambanya, dan Allah maha pemurah. Dengan kesabaran yang dilakukan Bapak Syamsuri Sigra, akhirnya Allah memudahkan jalannya. Akhirnya pada musim haji tahun 2015, Pak Syamsuri berhasil berangkat dengan kloter pertama dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang.

 

Kakek 80 tahun ini sangat bahagia, buah kesabaran dan ketekunannya selama ini berbuah manis. Kini ia telah berhasil terbang ke tanah suci untuk memenuhi panggilan Nya. Semoga ketekunan dan kesabaran yang dilakukan Bapak Syamsuri dapat kita ikuti, dan tidak ada yang tak mungkin jika ada niat dan ada pertolongan dari Allah.

 

Memenuhi panggilan Allah untuk pergi haji adalah kewajiban bagi seluruh umat Islam, namun menjadi syarat wajib bagi yang mampu. Jangan menyerah pada keadaan, berusahalah untuk memampukan diri kita untuk menuju panggilannya. Namun, tetap tidak memaksakan secara berlebihan.

Artikel Rekomendasi