Responsive image
0
0
0

DISPENSASI BAGI HAJI DAN UMROH

Jamaah Haji atau Umroh memang harus membekali diri dengan ilmu pengetahuan tentang ibadah dengan baik, sebab tanpa bekal yang cukup jamaah Haji atau Umroh tidak akan mendapatkan kemabruran dari ibadah yang dilaksanakan. Bekal tersebut bukan hanya bekal yang berkaitan dengan Haji atau Umroh saja namun bekal yang berkaita dengan ibadah saat kondisi perjalanan seperti sholat.
Dimana seseorang yang melakukan bepergian jauh seperti Hji atau Umroh diberikan keringanan dalam tatacara pelaksanaan shalat. Islam memperbolehkan seorang musafir melakukan peringkasan (qashar) dalam shalat berjumlah empat rakaat menjadi dua rakaat, yakni shalat zhuhur, ashar dan isya'. Konsensus (ijma') ulama tidak memperbolehkan qashar untuk shalat maghrib dan subuh.
Hal ini berdasarkan Surat An-Nisa’ ayat 101. Artinya, “Ketika kalian bepergian di bumi, maka bagi kalian tidak ada dosa untuk meringkas shalat.”
Adapun tata cara mengqoshor sholat ini sebagai berikut :
1. Niat qashar shalat saat takbiratul ihram. Adapun niatnya sebagai berikut.
Usholli fardho zuhri qoshron lillahi ta’ala
“Saya niat shalat fardhu zhuhur dengan qashar karena Allah ta’ala.”
2. Adapun bacaan yang dibaca dalam sholat qoshor ini sama seperti bacaan dalam sholat lainnya
Dalam menjalankan sholat qoshor ini jika berjamaah harus sama dengan imam, artinya tidak dilakukan dengan cara mengikuti (bermakmum) kepada imam yang melaksanakan shalat itmam (tidak meng-qashar), baik imam tersebut berstatus musafir ataukah muqim (tidak bepergian) atau pada imam yang masih diragukan keadaan bepergiannya.
Tentu saja sholat yang bisa di qoshor ini adalah sholat yang berjumlah 4 rokaat saja, sedangkan maghrib dan shubuh tidak bisa di qoshor.  Kemudian yang perlu dicamkan bahwa dilaksanakan ketika masih yakin dirinya (Al-Qashir) masih dalam keadaan bepergian sehingga ketika di tengah-tengah shalat muncul keraguan atau bahkan yakin dirinya telah sampai di daerah muqimnya (desanya) kembali, maka ia berkeharusan menyempurnakan shalatnya.